Arya Wang Bang Pinatih
Di masa kejayaan Kerajaan Majapahit, jauh di Jawa Timur, hidup seorang pendeta sakti bernama Mpu Siddhimantra. Suatu hari, ia dikaruniai seorang putra yang diberi nama Ida Bang Banyak Wide, lahir dari perkawinannya dengan seorang bidadari. Bersama tiga saudaranya—Danghyang Panawasikan, Danghyang Smaranatha, dan Danghyang Kepakisan—Banyak Wide tumbuh menjadi pemuda yang cerdas dan penuh bakat.
Setelah mencapai usia dewasa, Banyak Wide memutuskan untuk pergi ke istana Majapahit. Di sana, ia menarik perhatian Mpu Sedah, seorang pendeta sakti ternama, yang kemudian mengangkatnya sebagai anak angkat. Di bawah bimbingan Mpu Sedah, pengetahuan dan keahlian Banyak Wide semakin berkembang, baik dalam hal pemerintahan maupun spiritualitas.
Ketika Kerajaan Majapahit memutuskan untuk memperluas kekuasaan ke Bali, Sri Kresna Kepakisan—saudaranya—diangkat sebagai Adipati Bali. Arya Wang Bang Pinatih, seperti yang kini ia dikenal, menjadi salah satu pengiring utama dalam perjalanan tersebut. Setelah tiba di Bali, ia diangkat sebagai Demung di wilayah Kertalangu.
Dengan keahliannya dalam memimpin pasukan dan merencanakan strategi, Arya Wang Bang Pinatih membantu menaklukkan berbagai daerah di Bali, membawa kedamaian dan tatanan baru bagi pulau tersebut. Ia tidak hanya berperan sebagai pemimpin militer, tetapi juga sebagai pembawa nilai-nilai budaya dan tradisi dari Majapahit yang kemudian menyatu dengan kekayaan budaya lokal Bali.
Dalam kehidupannya berumah tangga, Arya Wang Bang Pinatih dikaruniai anak-anak, antara lain Ida Bang Bagus Pinatih dan Ida Bagus Pinatih. Keturunannya kemudian menyebar ke berbagai penjuru Bali—dari Badung hingga Tabanan dan Karangasem—menjadi bagian penting dalam pembangunan masyarakat dan pelestarian tradisi leluhur.
Hingga kini, nama Arya Wang Bang Pinatih masih dikenang dan dihormati oleh masyarakat Bali. Warisannya dalam bentuk tradisi, budaya, dan sejarah terus hidup dan menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas pulau dewata.
Komentar
Posting Komentar